Detektif satu ini merupakan legenda di dunia per-detektif-an. Novelnya yang merupakan karangan Sir Arthur Conan Doyle, telah banyak menginspirasi cerita detektif lain, salah satunya seperti Detektif Conan (my favourite manga!!…nama Conan didapat dari nama Sir Arthur Conan Doyle). Akhirnya cerita detektif ini muncul di layar lebar. Sherlock Holmes, di film ini tidak seperti Sherlock yang biasa digambarkan, dimana menggunakan topi kotak-kotak dan jubah kotak-kotak, namun tetap dengan pipa untuk menghisap tembakau-nya. Pada film ini diceritakan Sherlock harus mengalahkan seorang penjahat bernama Blackwood, yang menggunakan trik-trik kimia dan fisika, untuk menyebar teror ketakutan di London, bahkan seantero Inggris. Musuh abadi Sherlock Holmes, Profesor James Moriarty, juga muncul meskipun tidak secara jelas (mungkin nanti ada film Sherlock Holmes versi lain yah….). Menonton film ini tidak terlalu berbeda dengan saat membaca novel Sherlock Holmes, dimana penonton akan dibuat bingung-dengan jalan cerita dan trik-trik, hingga akhirnya Sherlock mengungkap semua di akhir ceritanya. Penggambaran suasana Inggris tempo doeloe cukup bagus, dan adegan laganya juga cukup seru. Sayangnya, saat menonton di bioskop, saya harus duduk di bangku terdepan, sehingga untuk menikmati gambarnya secara penuh harus rajin geleng-geleng kepala. This movie is highly recommended…
Archive for January 10th, 2010
Minggu siang, 100110, mama dan papa tiba-tiba (berencana) mengajakku ke suatu agrowisata di daerah Dlinggo. Mobil merah dipacu kencang ke arah makam-makam raja imogiri bantul, sampai ada penunjuk jalan menuju Dlinggo. Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya menemukan tulisan “Kebun buah” dan penunjuk panah. Dengan kepercayaan diri 100 persen diikutilah rute tersebut. Setelah meliuk-liuk hampir sekitar 20 menit…tak kunjung ada penanda lagi. Akhirnya karena berpegang teguh pada semboyan “malu bertanya sesat di jalan”, papa memutuskan untuk bertanya pada orang di jalan…dan ternyata…kebun buah yang dimaksud sudah sangaaat jauuuuh terlewat…:((. Hahaha…beginilah (seringnya) nasib piknik keluargaku, karena tujuan semula memang hanya jalan-jalan keluar rumah.
Akhirnya dalam waktu singkat dengan tanpa ada beda pendapat, semua sepakat, daripada balik dan belum tentu ketemu, lebih baik lanjut ke patuk terus cari makan disana (semua kelaparan, dan tidak ada bekal yang cukup di mobil-ini juga tradisi keluarga : “makanan beli dijalan, tidak bawa dari rumah”). Yah begitulah…acara wisata ke agrowisata, berubah seketika menjadi acara wisata kuliner. Dan (lagi-lagi) mama, papa,dan aku sepakat…kita makan nasi merah jirak. Yah begitulah acara “klintong-klintong” (sebutan mama-papaku untuk acara jalan-jalan tanpa arah) kami lalui…

Warung Nasi merah Jirak yang terletak persis di sebelah jembatan jirak
Nasi merah jirak sendiri memang kuliner yang sudah sangat dikenal di Wonosari, Gunungkidul. Warung makan sederhana dengan menu makanan rumahan. Hal yang membuat tempat ini istimewa adalah nasi merah yang digunakan sebagai makanan pokoknya. Saat datang, kita hanya perlu memesan minum dan porsi nasi, dengan begitu lauk pauk akan sendirinya menyusul. Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa, hanya saja nasi merah hangat, sayur tempe lombok hijau, sayur godhong telo (daun ketela), trancam, wader goreng, daging, iso babat, dan berbagai macam krupuk bisa berpadu sangat harmonis menendang lidah para musafir yang makan di sana (halah!). Belum lagi teh poci gula batu yang sukses menuntaskan semuanya masuk ke kerongkongan. Satu kata untuk nasi merah jirak…MANTAP!!!

Recent Comments